Keutamaan Shalawat

 

1.Balasan shalawat sepuluh kali lipat dari Allah Ta’ala.
Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Ia pernah mendengar Rasulullah bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى الله ُعَلَـيْهِ عَشْرًا
“Siapa yang bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 384).
Bentuk shalawatnya Allah adalah memujinya di hadapan para malaikat.

2.Diangkat derajatnya sepuluh kali.
3.Ditulis untuknya sepuluh kebaikan.
4.Dihapuskan sepuluh dosanya.
Ini semua terangkum dalam hadits dari Abu Burdah bin Dinar ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa bershalawat untukku dengan satu shalawat dengan hati yang ikhlas, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, mengangkat derajatnya sepuluh tingkat, menuliskan untuknya sepuluh kebaikan dan menghapus sepuluh dosanya.”

(HR. An-Nasa`iy dalam As-Sunan Al-Kubra, Ath-Thabarani dan Al-Bazzar, sebagaimana dalam At-Targhib, no. 2468. Al-Albani menganggapnya hasan shahih dalam Shahih At-Targhib, no. 1659).

5.Banyak bershalawat membuat dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjanji bahwa yang memperbanyak shalawat kepada beliau akan diprioritaskan bersama beliau di hari kiamat. Ini terungkap dalam hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berasabda,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةٌ

“Sesungguhnya orang yang paling utama (untuk berada dekat) denganku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak mengucapkan shalawat kepadaku.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 484, dan Ibnu Hibban sebagaimana dalam At-Targhib wa At-Tarhib, no. 2479, keduanya melalui jalur Musa bin Ya’qub Az-Zam’i. Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dalam Shahih At-Targhib, no. 1667).

Al-Munawi menjelaskan maksud paling dekat kepada Rasulullah SAW di sini adalah yang paling diprioritaskan mendapat syafaat beliau dan paling berhak mendapatkan semua kebaikan serta terhindar dari segala keburukan.

6.Banyak shalawat mempermudah urusan dunia dan akhirat.
Dari Ubay bin Ka’b ra, ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sudah sampai seperempat malam, beliau bersabda kepada orang banyak. “Wahai sekalian manusia, berdzikirlah kepada Allah, berdzikirlah kepada Allah! Berdsikirlah kepada Allah! Akan datang rajifah kemudian disusul radifah . Akan datang kematian dan konsekuensinya! Akan datang kematian dan konsekuensinya !”
Ubay berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, saya ingin memperbanyak shalawat kepada anda, berapa kali saya harus bershalawat dalam (mengiringi) doa saya?”
Beliau menjawab, “Sesukamu.” Ubay berkata, “Bagaimana kalau seperempatnya.” Beliau menjawab, “Sesukamu, tapi bila lebih itu lebih baik bagimu.” Ubay berkata, “Kalau setengahnya?” beliau menjawab, “Sesukamu, tapi bila lebih itu lebih baik.” Ubay berkata, “Kalau dua pertiga?” Beliau menjawab, “Sesukamu, tapi kalau lebih juga lebih baik.” Ubay berkata lagi, “Bagaimana kalau semua doa saya isinya adalah shalawat kepada anda?” Beliau berkata, “Kalau begitu keinginanmu akan tercukupi dan dosamu akan diampuni.”
(HR. At-Tirmidzi, no. 2457).

Dalam riwayat lain, “…….Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mencukupkan keperluan dunia dan akhiratmu, serta mengampunimu.”
(HR. Ahmad sebagaimana kata Al-Mundziri dalam At-Targhib, no. 2481. Al-Albani menganggapnya hasan shahih dalam Shahih At-Targhib, no. 1669).

Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang bagaimana shalawat bisa membuat terampuninya dosa atau tercukupinya segala keperluan. Dia menjawab yang intinya, jika seseorang bershalawat kepada Nabi SAW dengan satu kali shalawat, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan barangsiapa yang Allah beri shalawat kepadanya, maka tercukupilah semua keinginannya dan terampunkanlah dosanya.

Hadits ini menunjukkan bahwa banyak bershalawat dapat membuat kita merasa cukup dari kebutuhan dunia dan akhirat. Kecukupan itu bisa datang dari lancarnya usaha kita mencari rezki, sehingga lebih banyak berhasil daripada gagalnya, atau bisa pula berupa sifat qana’ah yang Allah turunkan ke hati kita, sehingga tuntutan hidup kita pun lebih sederhana. Ingatlah! Kebanyakan orang stress akibat tuntutan-tuntutan ambisinya tidak terpenuhi, padahal ambisi tersebut tidaklah begitu penting, dan kalau pun berhasil juga tak ada jaminan bahagia. Makanya, seorang muslim haruslah menjadikan ambisi utamanya adalah surga tertinggi, sehingga semua kigiatannya di dunia dilakukan dalam rangka mencapai ambisi mulia tersebut.

7.Shalawat sebagai pengantar terkabulnya doa.
Di pasal tentang doa telah kita bahas bahwa salah satu adab dalam berdoa adalah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum memulai permintaan. Juga disebutkan haditsnya dari beliau sendiri, misalnya sabda beliau,

كُلٌّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Setiap doa mahjub (tertutup) sampai dibacakan dulu shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(HR. Ibnu Makhlad dan Al-Ashbahani sebagaimana dikatakan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2035).

Selain itu ada beberapa riwayat berstatus mawquf (perkataan sahabat) yaitu Ali dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, yang menjelaskan doa seseorang itu akan tertutup, tidak dikabulkan bila tidak disertai ucapan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan tertahan dan tidak sampai ke langit.

Demikian fadhilah shalawat secara umum yang saya dapatkan dalam hadits-hadits maqbul (shahih atau hasan baik lidzatihi maupun lighairih). Ada beberapa fadhilah lain, tapi riwayat-riwayatnya bermasalah sehingga tidak saya cantumkan di sini, sebagaimana prinsip awal penulisan buku ini yang hanya berdasarkan hadits-hadits maqbul.

Ditulis oleh Ust. Anshari Taslim

Hal yang mempercepat hafalan alquran


1. Taat kepada Allah
2. Meninggalkan musik
3. Jangan berlebihan ketika berkomunikasi dengan lawan jenis, secukupnya saja. Baik di dunia nyata maupun maya, tentunya dengan menjaga pandangan (di dunia nyata dengan melihat seperlunya di dunia maya dengan tidak memajang foto diri)

Point nomor 2 dan 3 intinya sama yaitu menjauhi larangan Allah, tapi point tersebut spesial dan paling berpengaruh besar terhadap hafalan alquran. Jadi bagi yang berharap hafalan alquran nya menancap dengan baik, hafalan kuat dan lancar. Maka perhatikan point tersebut.

Daaaan perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Beliau mengatakan, “Sungguh nyanyian dapat memalingkan hati seseorang dari memahami, merenungkan dan mengamalkan isi Al Qur’an. Ingatlah, Al Qur’an dan nyanyian selamanya tidaklah mungkin bersatu dalam satu hati karena keduanya itu saling bertolak belakang. Al Quran melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu, Al Qur’an memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi berbagai bentuk syahwat yang menggoda jiwa. Al Qur’an memerintahkan untuk menjauhi sebab-sebab seseorang melenceng dari kebenaran dan melarang mengikuti langkah-langkah setan. Sedangkan nyanyian memerintahkan pada hal-hal yang kontra (berlawanan) dengan hal-hal tadi.”
Ighatsatul Lahfan, 1/248-249.

Cara Instalasi TeamViewer di Kali Linux

Install Team viewer in Kali linux 64 bit.

1- Download to home directory:http://download.teamviewer.com/dow…/teamviewer_linux_x64.deb

2- dpkg –add-architecture i386

3- apt-get update

4- dpkg -i teamviewer_linux_x64.deb

5- You will get errors for unmet dependencies which can be installed by using following command.

6- apt-get install -f

Learn more about Team viewer –
http://www.teamviewer.com/en/index.aspx

What is Team viewer –
http://en.wikipedia.org/wiki/TeamViewer

Konfigurasi Time CLI Ubuntu

 

What if you would like to manage your computer’s time in Ubuntu? It’s easy if you are in a graphical desktop environment. But what if you are on the command line? For example, in Ubuntu Server? Well, it is easy as well. A very helpful, everything-in-one-place resource is Ubuntu Time.

View Time

To view the current date and time, the following command will be enough

date

Set Time

To change time means to set a new time. To set time in Ubuntu (or any Linux), just run the following command

sudo date newdatetimestring

where newdatetimestring has to follow the format nnddhhmmyyyy.ss which is described below

  • nn is a two digit month, between 01 to 12
  • dd is a two digit day, between 01 and 31, with the regular rules for days according to month and year applying
  • hh is two digit hour, using the 24-hour period so it is between 00 and 23
  • mm is two digit minute, between 00 and 59
  • yyyy is the year; it can be two digit or four digit: your choice. I prefer to use four digit years whenever I can for better clarity and less confusion
  • ss is two digit seconds. Notice the period ‘.’ before the ss.

Let’s say you want to set your computer’s new time to December 6, 2007, 22:43:55, then you would use:

sudo date 120622432007.55

It couldn’t be any easier, could it? The source of this information was a good post on Ubuntu Forums (Set time/date via command line).

Change Time Zone

You may update or change your time zone by

tzconfig
dpkg-reconfigure tzdata (thanks to Mario, see comment below)

This command will guide you through the process of setting a new time zone. You may also choose UTC (GMT) if you want.

If your system does not have tzconfig, you may use something else.

tzselect

If your system does not have tzdata, install it as below:

sudo aptitude install tzdata

This will provide a set of different time zones to choose. If you would like to set the time to UTC, choose the option which says something like ‘none of the above’, or ‘none of these’ or something to this effect. In my case it was option 11. Then it asks for difference from UTC (GMT and GST is also the same thing). I chose GST-0 as the option and it set the time as UTC.

 

sumber : help.ubuntu.com , https://codeghar.wordpress.com

Kenal Lebih Dekat Dengan Sang Peniup Sangkakala

Meski tidak seintens Jibril dan Mikail, Malaikat Israfil adalah yang memiliki hubungan dan terkaitan dengan alam dan kehidupan, baik manusia maupun makhluk Allah yang lain. Malaikat ini memang diserahi tugas oleh Allah dengan urusan yang sangat berat, yakni mengakhiri semua realitas hidup dan kehancuran alam raya dalam sebuah ketentuan Allah yang bernama: Kiamat!

1. Tentang Namanya

Asal-usul penyebutan namanya sebagai Israfil, adalah berdasarkan penyebutan di dalam beberapa penyebutan didalam beberapa hadits Rasulullah. Salah satunya adalah hadits berikut ini, “Ya Allah, Rabb Jibril, Rabb Mikail, Rabb Israfil. Pencipta langit dan bumi…”(HR. Muslim)

Dengan demikian, nama Israfil dan keberadaan malaikat ini memiliki dalil dan rujukan langsung dari Rasulullah.

2. Tugas utamanya adalah sebagai peniup sangkakala

Israfil akan mengakhiri kehidupan di jagad raya ini dengan meniup sangkakala yang telah Allah amanahkan kepadanya. Dia dijuluki sebagai Sang peniup sangkakala. Meskipun dia adalah peniup sangkakala, bukan berarti Israfil tidak mengalami kematian. Israfil juga akan mengalami kebinasaan.

Tentang tugas Israfil sebagai peniup sangkakala, ada sebuah informasi dari hadits yang merekam data tersebut. Terjemahan hadits itu adalah sebagai berikut:

“Allah menciptakan sangkakala itu sebuah mutiara putih dalam kaca yang sangat bersih, lalu Dia berfirman kepada ‘Arsy; ‘Ambilah sangkakala itu. Maka, dia mengambilnya dan bersamanya ada sebuah lubang sejumlah semua ruh makhluk dan semua napas yang dihembuskan. Dua ruh tidak akan keluar dari satu lubang. Dan di tengah-tengah sangkakala itu ada sebuah lubang angin seperti bulat langit dan bumi. Sementara israfil meletakkan mulutnya di atas lubang angin itu, lalu Tuhan berfiman kepadanya, aku telah menugaskanmu mengurus sangkakala itu. Maka, tugasmu adalah meniup dan berteriak. Lalu Israfil masuk ke bagian depan ‘Arsy, dia memasukkan kaki kanannya di bawah ‘Arsy, dan mengeluarkan kaki kirinya. Dan dia tidak pernah berkedip sejak Allah menciptakannya untuk menunggu apa yang diperintahkan-Nya.” (HR. Abu Asy-Syaikh dari Wahb)

3. Kedudukan Israfil

Posisi Israfil adalah termasuk malaikat yang utama dan dekat dengan ‘Arsy Allah, Rasulullah bersabda, “Pernah seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang malaikat Allah yang berada di samping-Nya, beliau menjawab: ‘Sesungguhnya malaikat yang ada di samping-Nya adalah Israfil, Jibril, Mikail, lalu malaikat maut.’” (Ath-Tharbani, Abu Nu’aim, dari Abu Hurairah)

4. Bentuk malaikat Israfil

Malaikat israfil adalah termasuk dari kalangan malaikat yang utama dan dekat dengan Allah. sebagaimana halnya para malaikat yang lain, Israfil pun dengan sayap. Israfil memiliki empat buah sayap, hal ini berdasarkan hadits berikut:

Ka’ab pernah bertanya kepada Aisyah , “Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah berbicara sesuatu tentang Israfil?” Aisyah menjawab: ‘Ya. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “dia memiliki empat sayap, dua sayap diantaranya; salah satunya di Timur dan yang lainnya di Barat, sedangkan Lauh berada di antara kedua matanya, bila Allah ingin menuliskan wahyu, Dia mengulir diantara keningnya.” (Riwayat Abu Asy-Syaikh dan Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas)

5. Tentang sangkakala yang ditiup oleh israfil

Keterangan tentang sangkakala lebih banyak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an dari pada tentang jati diri peniupnya.

Berikut ini adalah kutipan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan soal sangkakala yang bakal ditiup oleh malaikat Israfil;

“Dan tiuplah sangkakala, maka matilah semua siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Az-Zumar: 68)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa malaikat Israfil akan meniupkan sangkakalanya 2 kali. Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan bagi segenap makhluk hidup yang kemudian mematikan semua makhluk yang bernyawa. Dan tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan bagi segenap makhluk hidup yang kemudian mematikan semua makhluk yang bernyawa. Dan tiupan yang kedua adalah tiupan yang akan membangkitkan kembali, jasad dan tulang belulang manusia menjadi utuh dan hidup kembali. [Syahida.com]

Sumber : Kitab Jejak Malaikat di Bumi, M Hilal Tri Anwari

Sumber: http://www.syahida.com/2015/03/31/2848/kenal-lebih-dekat-dengan-sang-peniup-sangkakala/#ixzz3ydmgrQrg

Khalid bin Walid

Khalid bin Walid, Panglima Perang, si Pedang Allah( cerita panjang)

Pribadi yang mengaku tidak tahu dimana dan dari mana kehidupannya bermula, kecuali di suatu hari dimana ia berjabat tangan dengan Rasulullah saw, berikrar dan bersumpah setia….saat itulah dia merasa dilahrikan kembali sebagai manusia “Dialah orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”

Suatu saat Khalid bin Walid pernah menceritakan perjalanannya dari Mekah menuju Madinah kepada Rasulullah:

“Aku menginginkan seorang teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah; kuceritakan kepadanya apa maksudku, ia pun segera menyetujuinya. Kami keluar dari kota Mekah sekitar dini hari, di luar kota kami berjumpa dengan Amr bin Ash.

Maka berangkatlah kami bertiga menuju kota Madinah, sehingga kami sampai di kota itu di awal hari bulan Safar tahun yang ke delapan Hijriyah. Setelah dekat dengan Rasulullah saw kami memberi salam kenabiannya, Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Sejak itulah aku masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq…”

Rasulullah bersabda, “Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat, dan aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntun anda kejalan yang baik…” Oleh karena itulah, aku berjanji setia dan bai’at kepada beliau, lalu aku Mohon “Mohon Rasulullah mintakan ampun untukku terhadap semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah…”

Dalam perang Muktah, ada tiga orang Syuhada Pahlawan, mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, mereka bertiga adalah Syuhada Pahlawan si Pedang Allah di Tanah Syria. Untuk keperluan perang Muktah ini, pasukan musuh, Pasukan Romawi mengerahkan sekitar 200.000 prajurit.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersama panjinya sampai ia tewas. Kemudian panji tersebut diambil alih oleh Ja’far, yang juga bertempur bersama panjinya sampai ia gugur sebagai syahid. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia juga gugur sebagai Syahid.”

“Kemudian panji itu diambil alih oleh suatu Pedang dari pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tangannya.”

Sesudah Panglima yang ketiga gugur menemui syahidnya, dengan cepat Tsabit bin Arqam menuju bendera perang tersebut, lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau, dan semangat pasukan tetap tinggi…

Tak lama sesudah itu, dengan gesit ia melarikan kudanya kearah Khalid bin Walid, sambil berkata kepadanya, “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman…!”

Khalid merasa dirinya sebagai seorang yang baru masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshor dan Muhajirin yang terlebih dahulu masuk Islam daripadanya, Sopan, Rendah hati, arif bijaksana, itulah sikapnya. Ketika itu ia menjawab, “Tidak….. jangan saya yang memegang panji suci ini, engkaulah yang paling berhak memegangnya, engkau lebih tua, dan telah menyertai perang Badar!

Tsabit menjawab, “Ambillah, sebab engkau lebih tahu siasat perang daripadaku, dan demi Allah aku tidak akan mengambilnya, kecuali untuk diserahkan kepadamu!”  kemudian ia berseru kepada semua pasukan muslim, Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?” mereka menjawab, “Setuju!”

Dengan gesit panglima baru ini melompati kudanya, di dekapnya panji suci itu dan mencondongkannya kearah depan dengan tangan kanannya, seakan hendak memecahkan semua pintu yang terkunci itu, dan sudah tiba saatnya untuk di dobrak dan diterjang. Sejak saat itulah, kepahlawanannya yang luar biasa, terkuak dan mencapai titik puncak yang telah ditentukan oleh Allah baginya…

Saat perang Muktah inilah korban di pihak kaum muslimin banyak berjatuhan, dengan tubuh-tubuh mereka berlumuran darah, sedang balatentara Romawi dengan jumlah yang jauh lebih besar, terus maju laksana banjir yang terus menyapu medan tempur.

Dalam situasi yang sangat sulit itu, tak ada jalan dan taktik perang yang bagaimanapun, akan mampu merubah keadaan. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh seorang Komandan perang, ialah bagaimana melepaskan tentara Islam ini dari kemusnahan total, dengan mencegah jatuhnya korban yang terus berjatuhan, serta berusaha keluar dari keadaan itu dengan sisa-sisa yang ada dengan selamat

Pada saat yang genting itu, tampillah Khalid bin Walid, si Pedang Allah, yang menyorot seluruh medan tempur yang luas itu, dengan  kedua matanya yang tajam. Diaturnya rencana dan langkah yang akan diambil secepat kilat, kemudian membagi pasukannya  kedalam kelompok-kelompok besar dalam suasana perang berkecamuk terus. Setiap kelompok diberinya tugas sasaran masing-masing, lalu dipergunakanlah seni Yudhanya yang membawa mukjizat, dengan kecerdikan akalnya yang luar biasa, sehingga akhirnya ia berhasil membuka jalur luas diantara pasukan Romawi. Dari jalur itulah seluruh pasukan Muslim menerobos dengan selamat. Karena prestasinya dalam perang inilah Rasulullah menganugrahkan gelar kepada Khalid bin Walid, “Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”.

Sepeninggal Rasulullah, wafat, Abu Bakar memikul tanggung jawab sebagai Khalifah. Dia menghadapi tantangan yang sangat besar dan berbahaya, yaitu gelombang kemurtadan yang hendak menghancurkan agama yang baru berkembang ini. Berita-berita tentang pembangkangan kaum-kaum dan suku-suku Di Jazirah Arab ini, dari waktu ke waktu semakin membahayakan. Dalam keadaan genting seperti ini, Abu Bakar sendiri maju untuk memimpin pasukan Islam. Tetapi para sahabat utama tidak sepakat dengan tindakan Abu Bakar ini. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.

Sayyidina Ali terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang di tungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukannya menuju medan perang, sembari berkata, “Hendak kemana Engkau wahai Khalifah Rasulullah, akan kukatakan kepadamu apa yang pernah dikatakan Rasulullah di hari Uhud: “Simpanlah pedangmu wahai Abu Bakar, jangan engkau cemaskan kami dengan dirimu!”

Di hadapan desakan dan suara bulat kaum muslimin, Khalifah terpaksa menerima untuk tetap tinggal di kota Madinah. Maka setelah itu, di bagilah tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, dengan beban tugas tertentu. Sedang sebagai kepala dari keseluruhan pasukan tersebut, diangkatlah Khalid bin Walid. Dan setelah menyerahkan bendera kepada masing-masing komandannya, Khalifah mengarahkan pandangan kepada Khalid bin Walid, sambil berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid bin Walid, sebilah pedang diantara pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik…!”

Khalid pun segera melaksanakan tugasnya dengan berpindah-pindah dari suatu tempat medan tempur  ke pertempuran yang lain, dari suatu kemenangan ke kemenangan berikutnya.

Datanglah perintah dari Khalifah Abu Bakar, kepada Panglima yang tak tertandingi ini, agar berangkat menuju Yamamah untuk memerangi Bani Hanifah bersama kabilah-kabilah yang telah bergabung dengan mereka yang terdiri dari gabungan aneka ragam tentara murtad yang paling berbahaya. Pasukan ini di pimpin oleh Musalimah al-Kadzdzab..

Khalid bersama pasukannya mengambil posisi di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, dan menyerahkan bendera perang kepada komandan-komandan pasukannya, sementara Musailamah menghadapinya dengan segala kecongkakan dan kedurhakaan bersama dengan pasukan tentaranya yang sangat banyak, seakan-akan tak akan habis-habisnya.

Di tengah pertempuran yang berkecamuk amat dahsyat ini, Khalid melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tempat tinggi yang terdekat, lalu ia melayangkan pandangannya ke seluruh medan tempur. Pandangan cepat yang diliputi ketajaman dan naluri perangnya, dengan cepat ia dapat mengetahui dan menyimpulkan titik kelemahan pasukannya.

Ia dapat merasakan, ada rasa tanggung jawab yang mulai melemah di kalangan parajuritnya di tengah serbuan-serbuan mendadak pasukan Musailamah. Maka diputuskanlah secepat kilat untuk memperkuat semangat tempur dan tanggung jawab pasukan muslimin itu. Di panggilnya komandan-komandan teras dan sayap, ditertibkannya posisi masing-masing di medan tempur, kemudian ia berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan:

Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing…, akan kita lihat hari ini jasa setiap suku!

Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka, dan orang-orang Anshor pun maju dengan panji-panji perang mereka, kemudian setiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri. Semangat juang pasukannya jadi bergelora lebih panas membakar, yang dipenuhi dengan kebulatan tekad, menang atau mati syahid. Sedangkan Khalid terus menggemakan Takbir dan Tahlil, sambil memberikan komando kepada para komandan lapangannya. Dalam waktu singkat, berubahlah arah pertempuran, prajurit-prajurit pimpinan Musailamah mulai berguguran, laksana nyamuk yang meggelepar berjatuhan.

Khalid bin Walid berhasil menyalakan semangat keberaniannya seperti sengatan aliran listrik kepada setiap parajuritnya, itulah salah satu keistimewaannya dari sekian banyak keunggulannya. Musailamah tewas bersama para prajuritnya, bergelimpangan memenuhi seluruh area medan pertempuran, dan terkuburlah selama-lamanya bendera yang menyerukan kebohongan dan kepalsuan.

Selanjutnya, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk berangkat menuju Irak, maka berangkatlah sang Mujahid ini ke Irak. Ia memulai operasi meliternya di Irak dengan mengirim surat ke seluruh Pembesar Kisra (Kaisar Persia) dan Gubernur-Gubernurnya di semua wilayah Irak.

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid Ibnu Walid kepada para pembesar Persi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian segala puji kepunyaan Allah yang telah memporak porandakan kaki tangan kalian, dan merenggut kerajaan kalian, serta melemahkan tipu daya kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami, dan menghadap kiblat kami, jadilah ia seorang muslim. Ia akan mendaptkan hak seperti hak yang kami dapatkan, dan ia berkewjiban seperti kewajiban kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini, maka hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah dariku perlindungan jika tidak, maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, akan kukirimkan kepada kalian satu kaum berani mati, padahal kalian masih sangat mencintai hidup…!”

Para mata-mata yang disebarkannya ke seluruh penjuru Persia datang menyampaikan berita tentang keberangkatan pasukan bala tentara yang sangat besar yang dipersiapkan oleh panglima-panglima Persia di Irak.

Khalid tidak membuang-buang waktu, dengan cepat ia memersiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Persia tersebut. Dalam perjalanan menuju Persia ini ia berhasil memperoleh kemenangan-kemenangan, mulai dari Ubullah, As-Sadir, di susul Najaf, lalu Al-Hirah, Al-Ambar, sampai Khadimiah. Di setiap tempat yang berhasil ia taklukkan ia disambut wajah berseri penduduknya, karena di bawah bendera Islam, mereka orang-orang yang lemah yang tertindas penjajah Persia, dapat berlindung dengan aman.

Rakyat yang terjajah dan lemah selama ini banyak mengalami derita perbudakan dan penyiksaan dari orang Persia. Khalid selalu berpesan dengan peringatan keras, kepada seluruh pasukannya setiap kali akan berangkat ke medan tempur:

Jangan kalian sakiti para petani, biarkanlah mereka bekerja dengan aman, kecuali bila ada yang hendak menyerang kalian, perangilah orang-orang yang memerangi kalian…”.

Kemenangan yang diraih oleh orang-orang Islam di Irak dari orang Persia menimbulkan harapan diperolehnya kemenangan yang sama pada orang Romawi di Syria. Khalifah Abu Bakar mengerahkan sejumlah pasukan dan menunjuk bebrapa orang pilihan sebagai Panglimanya, seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr bin Ash dan Yazid bin Abu Sufyan serta Muawiyah bin Abu Sufyan.

Pada saat balatentara Islam ini mulai bergerak, berita ini sampai kepada Kaisar Romawi. Ia menyarankan para menteri dan Jenderal-jenderalnya supaya berdamai saja dengan orang-orang Islam, dan berperang melawan mereka, karena itu hanya akan menimbulkan kerugian saja. Tetapi para menteri dan Jenderal-Jenderalnya tetap bersikeras hendak meneruskan perang sambil sesumbar: “Demi Tuhan, akan kita layani Abu Bakar itu, sampai ia tidak mampu mendatangkan pasukan berkudanya ke negeri kita ini.”

Mereka menyiapkan tidak kurang dari 240.000 tentara untuk peperangan ini. Para mata-mata pasukan tentara Islam mengirimkan gambaran tentang situasi gawat ini kepada Khalifah. Mengetahui hal itu Abu Bakar berkata, “Demi Allah, semua kekhawatiran dan keragu-raguan mereka akan kusembuhkan dengan kedatangan Khalid.”  Penyembuh kekhawatiran ini, berupa perintah berangkat ke negeri Syam kepada Khalid untuk memimpin seluruh pasukan Islam yang sudah mendahului berada di sana. Dengan sigap Khalid bin Walid melaksanakan perintah Khalifah, dan menyerahkan pimpinan pasukan di Irak kepada Mutsanna bin Haritsah, setelah semua urusannya di Irak selesai, ia segera berangkat menuju Syam.

Di medan perang, sebelum pertempuran di mulai, ia berdiri di tengah-tengah pasukannya sambil berpidato, “Hari ini adalah hari-hari Allah, tak pantas kita di sini berbangga-bangga dan berbuat durhaka….Ikhlaskanlah jihad kalian, dan harapkan Ridlo Allah dengan perangmu! Mari kita bergantian memegang pimpinan, yaitu secara bergiliran. Hari ini salah seorang memegang pimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi, sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin…!”

Balatentara Romawi, jika dilihat dari besarnya jumlah tentara dan perlengkapan persenjataan yang mereka miliki, merupakan sesuatu yang sangat mendebarkan bagi siapa saja yang melihatnya. Tak diragukan lagi, bahwa pasukan Islam sebelum kedatangan Khalid bin Walid merasa gentar dan cemas serta gelisah dalam jiwa mereka. Hanya karena iman merekalah yang membuat hati mereka mantap.

Bagaimanapun hebatnya orang-orang Romawi dan balatentaranya, tapi Abu Bakar telah berkata, “Khalid yang akan menyelesaikannya…, Demi Allah, segala kekhawatiran mereka akan kulenyapkan dengan seorang Khalid! Biarkan orang-orang Romawi dengan segala kehebatannya itu datang! Bukankah bagi kaum muslimin ada tukang pukulnya?”

Khalid bin Walid membrifing komandan-komandan tentaranya, dengan mempersiapkan dan membagi-bagi pada beberapa kesatuan besar. Diaturnya langkah-langkah taktik dan strategi untuk menyerang dan bertahan, untuk menandingi taktik-taktik tentara Romawi, seperti yang telah dialaminya dari kawan-kawannya orang Persia di Irak, dengan melukiskan setiap kemungkinan dari peperangan ini.

Sebelum terjun ke kancah peperangan, ada satu hal yang sedikit menganggu pikirannya, yaitu kemungkinan sebagian anggota pasukannya yang melarikan diri, terutama mereka yang baru saja masuk Islam, setalah mereka melihat kehebatan dan keseraman tentara Romawi.

Salah satu rahasia kemenangan-kemenangan istimewa yang diraih Khalid dalam setiap pertempuran,ialah “Tsabat” artinya tetap tabah dan disiplin. Ia melihat, bahwa larinya dua tiga orang prajurit, akan menyebarkan kepanikan dan kekacauan pada seluruh kesatuan  yang akan berakibat fatal, dan ini merpakan bencana. Oleh sebab itu, tindakannya sangat tegas dan keras sekali terhadap mereka yang membuang senjata dan melarikan diri dari medan pertempuran. Maka dalam peperangan Yarmuk ini, setelah seluruh pasukannya mangambil posisi, dipanggilnya perempuan-perempuan Muslimah untuk memanggul senjata. Mereka diperintahkan untuk mengambil posisi dibelakang barisan pasukan muslimin di setiap penjuru. Khalid berpesan kepada mereka, “Siapa saja yang melarikan diri dari medan pertempuran ini, bunuh saja mereka!”

Sebelum pertempuran dahsyat itu berlangsung, Panglima tentara Romawi meminta Khalid Tampil ke depan, karena ingin berbicara dengannya. Khalid tampil ke depan sehingga mereka berdua saling berhadapan di atas punggung kuda masing-masing, di suatu tempat tanah lapang diantara kedua pasukan.

Panglima pasukan tentara Romawi yang bernama Mahan itu berkata kepada Khalid:

Kami tahu, bahwa yang mendorong kalian keluar dari negeri kalian tidak lain hanyalah karena kelaparan dan kesulitan, jika kalian setuju, saya beri dari masing-masing kalian ini 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Dan di tahun yang akan datang saya akan kirimkan sebanyak itu pula……!

Mendengar itu, bukan main marahnya Khalid, tapi hal tetap ditahan, sambil menggetakkan giginya, ia menganggap suatu penghinaan dan kekurang ajaran dari panglima Romawi itu. Lalu di jawabnya dengan berucap:

Bahwa yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda kira, tapi kami adalah suatu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami sangat paham, bahwa tak darah yang lebih manis dan lebih enak dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!”

Panglima Khalid bin Walid menggeretakkan kekang kudanya, sambil kembali ke barisan pasukannya, diangkatnya bendera tingi-tinggi sebagai tanda dimulainya pertempuran. “Allahu Akbar,……berhembuslah angin surga,” teriaknya. Di tengah-tengah poertempuran sengit itu berlangsung, ada salah seorang dari tentara muslim yang mendekati Abu Ubaidan bin Jarrah, sambil berkata, “Aku sudah bertekad untuk mati syahid, apakah anda mempunyai pesan penting yang bisa kusampaikan kepada Rasulullah saw, jika aku menemuinya nanti?” Abu Ubaidah menjawab, “Ada, sampaikan kepada beliau, Ya Rasululullah, sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang telah di janjikan Allah, memang benar!”

Setelah itu, lelaki itu pergi menyeruak ke tengah-tengah medan pertempuran dengan menyerang bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Ia menyerbu ke tengah-tengah pertempuran dahsyat, merindukan tempat peraduan, sampai akhirnya ia mati syahid. Dia adalah Ikrimah Abu jahal, anak Abu Jahal. Ia berseru kepada barisan tentara orang-orang Islam, pada saat tekanan tentara Romawi semakin berat, dengan suara lantang, dia berkata, “Sungguh aku telah lama memerangi Rasulullah di masa lalu, sebelum aku mendapat hidayah dari Allah, masuk Islam. Apakah pantas aku lari hari ini, dari musuh-musuh Allah ini?” sambil berteriak ia berseru kepada pasukan Muslim, “Siapa yang bersedia dan berjanji untuk mati?”

Sekelompok pasukan muslimin berjanji kepada Ikrimah untuk berjuang sampai mati, kemudian mereka sama-sama menyerbu ke jantung pertahanan musuh, mereka hanya mencari kemenangan, tetapi jika kemenangan itu harus ditebus dengan jiwa raganya, mereka sudah siap untuk mati syahid….. Allah menerima pengorbanan  dan bai’at mereka, mereka semuanya mati syahid.

Di tengah pertempuran sengit itu, Khalid bin Walid mengerahkan 100 orang tentaranya, tidak lebih. Mereka diperintahkan untuk bersamanya menyerbu sayap kiri pasukan tentara Romawi yang jumlahnya tidak kurang dari 40.000 orang tentara. Khalid berpesan kepada mereka,: “Demi Allah, yang diriku di tangan-Nya, tak ada lagi kesabaran dan ketabahan yang tinggal pada orang-orang Romawi, kecuali apa yang kami lihat! Sungguh, aku berharap Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebas batang-batang keher mereka…!”

Kehebatan Khalid bin Walid ini sangat mengagumkan para panglima dan komandan tentara Romawi. Hal ini mendorong salah seorang dari mereka, bernama Georgius, mengundang Khalid pada saat-saat peperangan berhenti beristirahat, untuk bercakap-cakap. Panglima Romawi itu berkata kepada Khalid:

Tuan Khalid,….jujurlah anda kepadaku, jangan berbohong, sebab orang merdeka itu tak pernah bohong! Apakah Tuhan telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada anda, hingga setiap anda hunuskan terhadap siapapun, pedang tersebut pasti membinasakannya?” jawab Khalid, “Oh, tidak.”

Orang itu bertanya lagi, “Mengapa anda dinamakan Si Pedang Allah?” Jawab Khalid, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami, sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian lagi ada yang mendustakannya sehingga Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya……, Rasulullah mendoakanku dan berkata kepadaku, “Engkau adalah pedang Allah diantara sekian banyak pedang-pedang-Nya.” Demikianlah, maka aku diberi julukan  pedang Allah”.

Dialog selanjutnya terjadi antara panglima itu dengan Khalid:

  • Kepada siapa anda sekalian diserunya?
  • Kepada Men-tauhid-kan Allah dan kepada Islam
  • Apakah orang-orang yang masuk Islam sekarang akan mendapatkan pahala seperti anda juga?
  • Memang, bahkan lebih……..
  • Bagaimana dapat terjadi, padahal anda telah lebih dahulu memasukinya?
  • Karena sesungguhnya kami telah hidup bersama Rasulullah dan kami telah melihat tanda-tanda Kerasulan dan mukjizatnya, dan wajar bagi setiap orang yang telah melihat seperti yang kami lihat, dan mendengar seperti yang kami dengar, akan masuk Islam dengan mudah. Adapun anda, wahai orang-orang yang belum pernah melihat dan mendengarnya, lalu anda beriman kepada yang gaib, maka pahala anda lebih berlipat ganda dan besar, bila anda membenarkan Allah dengan hati ikhlas serta niat yang suci…

Panglima Romawi itu kemudian berseru sambil memajukan kudanya ke dekat Khalid dan berdiri disampingnya “Ajarkanlah kepadaku Islam itu, wahai Khalid….! Maka setelah itu masuk islamlah si panglima itu, dan salat dua rakaat, satu-satunya salat yang sempat dilakukan, karena setelah peristiwa itu kedua pasukan mulai bertempur lagi. Panglima Romawi, Georgius, yang sekarang bertempur di pihak kaum muslimin itu, dengan matian-matian menuntut syahid, sampai ia mencapainya dan ia mendapatkannya……..

Kehidupan Khalid bin Walid adalah perang sejak lahir sampai matinya. Lingkungan, Pendidikan, pertumbuhan dan seluruh hidupnya, sebelum dan sesudah Islam, seluruhnya merupakan arena bagi seorang pahlawan Berkuda yang sangat lihai dan ditakuti

Pedangnya adalah alat yang sangat ampuh sebagai penebus masa lalunya. Pedang yang berada dalam genggaman seorang panglima berkuda seperti Khalid, dan tangan yang menggenggam pedang itu digerakkan oleh hati yang bergelora serta di dorong oleh pembelaan yang mutlak terhadap agama yang suci, sungguh amat sulit bagi pedang ini untuk melepaskan diri sama sekali dari pembawaannya yang keras dan dahsyat, dan ketajamannya yang memutus…….

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Tak ada seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan lagi laki-laki seperti Khalid. Ia adalah pribadi yang sering dilukiskan oleh para sahabat-sahabat maupun musuh-musuhnya, dengan: “Orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”

Suatu saat ia pernah berkata: “Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih pada saat malam pengantin, atau di saat dikaruniai Bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, dimana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu subuh.”

Ada sesuatu yang selalu merisaukan pikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh usianya di atas punggung kuda perang dan dibawah kilat pedangnya.

Ketika itu ia berkata: “Aku telah ikut serta berperang dalam pertempuran di mana-mana, seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan anak panah…….kemudian inilah aku, tidak seperti yang aku inginkan, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta.”

Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kepada Khalifah Umar, agar Khalifah mewakafkan harta kekayaan yang ia tinggalkan, yang berupa Kuda dan Pedangnya. Selebihnya tidak ada lagi barang berharga yang dapat dimiliki oleh orang.

Seumur hidupnya ia tak pernah dipengaruhi oleh keinginan, kecuali menikmati kemenangan dan berjaya mengalahkan musuh kebenaran.

Tak satupun kesenangan duniawi yang dapat mempengaruhi keinginan nafsunya, kecuali hanya satu, yaitu barang yang dengan sangat hati-hati sekali dan mati-matian ia menjaganya. Barang itu berupa Kopiah. Pernah suatu ketika, kopiah itu jatuh dalam perang Yarmuk. Ia bersama beberapa pasukannya dengan susah payah mencarinya. Ketika orang lain mencelanya karena itu, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah saw”.

Di saat jenazahnya di usung beberapa sahabat keluar dari rumahnya, sang ibu memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memperlihatkan kekerasan hati tapi disaput awan duka cita, lalu melepaskannya dengan kata-kata:

Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….

Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…

Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..

Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……

Engkau lebih dahsyat dari air bah…..

Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……

Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman,

Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.

Ia hidup terpuji, dan berbahagia setelah mati…

Puisi Imam Syafi’i Tentang Merantau

ما في المُقامِ لذي عقلٍ وذي أدبٍ مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب
“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)

سافرْ تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya kebuasannya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
Sang surya, andai selalu terpaku di ufuk, niscaya ia akan dicela oleh segenap ras manusia, dari ras arabia, tidak terkecuali selain mereka.

والترب كالترب ملقى في أماكنه والعودُ في أرضه نوعاً من الحطب
Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.

إن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَب
Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi. Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang berharga.